Mengenal Fenomena “Fomo vs Jomo”: Mana Gaya Hidup yang Buat Kamu Lebih Bahagia?

Pernahkah kamu merasa gelisah saat melihat unggahan cerita (story) teman-temanmu di media sosial yang sedang berkumpul di konser musik hits, mencoba kafe baru yang viral, atau berlibur ke luar negeri? Ada rasa cemas yang menyelusup di dalam dada, seolah-olah hidupmu membosankan dan kamu sedang ketinggalan momen-momen paling berharga di dunia.

Kondisi mental ini tentu sudah tidak asing lagi di telingamu: FOMO atau Fear of Missing Out (Ketakutan Akan Ketinggalan Momen). Namun, sebagai antidotum atau penawar dari racun kecemasan digital ini, kini muncul gerakan gaya hidup baru yang sangat menyegarkan bernama JOMO atau Joy of Missing Out (Nikmatnya Ketinggalan Momen).

Mengenal Fenomena Fomo vs Jomo Mana Gaya Hidup yang Buat Kamu Lebih Bahagia 2

Mengenal Sisi Gelap FOMO di Era Digital

FOMO bukanlah sekadar istilah gaul anak muda, melainkan fenomena psikologis nyata yang semakin parah akibat algoritma media sosial. Media sosial didesain untuk memperlihatkan “puncak sorotan” (highlight reel) dari kehidupan orang lain, bukan realitas harian mereka yang biasa saja.

Ketika kamu terus-menerus membandingkan kehidupan bahagiamu yang biasa dengan puncak sorotan orang lain, otak akan memproduksi hormon stres. Dampak buruk dari sindrom FOMO ini sangat terasa:

  • Keputusan Finansial Imulsif: Membeli barang-barang mahal atau tiket acara yang sebenarnya tidak kamu butuhkan hanya demi bisa membuat unggahan di media sosial agar diakui.
  • Kelelahan Fisik dan Mental: Memaksa diri hadir di setiap acara sosial meskipun tubuhmu sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
  • Ketidakmampuan Menikmati Masa Kini: Saat sedang melakukan suatu aktivitas, pikiranmu tidak pernah benar-benar hadir di sana karena sibuk mengecek HP untuk melihat apa yang sedang dilakukan orang lain.

Peralihan Menuju JOMO: Seni Merayakan Ketenangan

Istilah JOMO pertama kali dipopulerkan oleh pengusaha teknologi Anil Dash. JOMO adalah respon emosional yang secara sadar memilih untuk merasa bahagia dan puas berada di mana pun kamu berada saat ini, tanpa perlu merasa cemas tentang apa yang sedang dilakukan orang lain di luar sana.

JOMO bukan berarti kamu menjadi seorang penderita antisosial yang mengurung diri dari dunia luar. JOMO adalah bentuk kebebasan mental kemampuan untuk berkata “Tidak” pada hal-hal yang tidak membawa nilai nyata bagi dirimu, sehingga kamu punya waktu untuk berkata “Ya” pada hal-hal yang benar-benar kamu cintai.

Cara Praktis Mempraktikkan JOMO dalam Keseharian

Mengubah pola pikir dari FOMO menjadi JOMO memang membutuhkan latihan secara bertahap. Berikut adalah langkah sederhana untuk memulainya:

  1. Lakukan Kurasi pada Akun Media Sosialmu: Berhentilah mengikuti (unfollow atau mute) akun-akun yang kerap memicu rasa iri, cemas, atau rasa tidak percaya diri pada penampilan dan finansialmu. Isi linimasa media sosialmu dengan konten-konten edukatif atau inspiratif.
  2. Tetapkan Waktu Bebas Layar (Screen-Free Time): Tetapkan batasan tegas, misalnya tidak memegang ponsel satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun pagi. Rasakan bagaimana pikiranmu terasa jauh lebih tenang saat tidak diserbu informasi dari luar.
  3. Nikmati Kegiatan Tanpa Perlu Mendokumentasikannya: Coba sesekali pergi menyantap makanan enak, melihat matahari terbenam, atau menonton pertunjukan tanpa perlu mengambil foto atau membuat video untuk diunggah di story. Nikmati momen itu murni hanya untuk dirimu sendiri.
  4. Latih Rasa Syukur (Gratitude): Fokus pada apa yang sudah kamu miliki saat ini, bukannya memikirkan apa yang belum kamu miliki. Kebahagiaan sejati muncul saat kita berhenti mengejar validasi dari orang asing di internet.

Di dunia yang terus-menerus berteriak menuntut perhatianmu, memilih untuk tenang dan menikmati momen kesendirianmu adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta pada diri sendiri (self-love). Ketinggalan tren bukanlah sebuah akhir dunia, melainkan awal dari kedamaian pikiranmu!

Scroll to Top